Spread the love

Jakarta – Menteri Jamaat-e-Islami (Hizbullah) Agus Sudarmji menegaskan bahwa Jamaat-e-Islami tidak memiliki ikatan organisasi dengan Khilafah Islamiyah.

Agus Sudarmji mengatakan anggota dan pejabatnya kemudian ditangkap oleh pihak berwenang sehubungan dengan kemunculan berita di media yang tampaknya menghubungkan kelompok Islam (Hizbullah) dengan Khilafah Muslim.Slot terpercaya

Agus Sudarmji mengatakan dalam pesan resmi: “Sejak kembalinya umat Islam (Hizbullah) pada tahun 1953, kami bukanlah gerakan politik, tetapi gerakan awal (kami tidak memiliki ideologi politik). Kami adalah bidang sosial, pendidikan dan kemanusiaan. .” Pernyataan Rabu (20/06-15).

Dalam bentuk itu, Agus menjelaskan, umat Islam telah mendirikan pondok pesantren, layanan penyelamatan, pengabdian masyarakat, dan pengembangan masyarakat dalam bentuk ceramah agama.

Melalui kegiatan tersebut, umat Islam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan pembangunan negara.

Ajos mengatakan bahwa Khulafah Nobuha sering dibawakan oleh para misionaris dari jamaah muslim, maksudnya para utusan para dewa dan Khulafaur Rashid al-Mahdiyin (Abu Bakar al-Sidik). – Siddiq, Omar bin Al-Khattab, Othman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) tidak berpolitik.

Dan saya tidak mengacu pada negara khilafah yang dijalankan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dalam bentuk Mulkan (politik).

Sejak berdirinya Komunitas Islam (Hizbullah), Agus mengaku tidak pernah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.

Aktivitas kelompok Islam (Hizbullah) tidak berorientasi pada aktivitas politik.

“Yang selama ini kita amalkan hanyalah amalan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan para ulama mengkajinya sebagai bentuk amalan hukum Islam, yaitu membangunnya atas dasar kesatuan sosial dalam masyarakat Islam. Sebuah pesan kenabian,” katanya.

Dia mengatakan bahwa komunitas Muslim, di mana pun berada, berusaha untuk mempromosikan kehidupan yang damai dan harmonis dalam keragaman budaya dan agamanya tanpa mengganggu otoritas dan ideologi lokal serta sistem sosial dan politik yang dianut.

“Kami mengimbau semua pihak untuk saling menghormati dan menjauhi konflik, apalagi permusuhan yang bisa berujung pada pertumpahan darah di negeri ini,” ujarnya.

“Kami percaya bahwa tidak ada Negara Islam. Semoga Tuhan memberkati Nabi Muhammad dan memberinya kedamaian. Dia bukan kepala negara atau politisi, tetapi seorang utusan Tuhan yang tugas utamanya adalah menunjukkan belas kasihan kepada semua alam.”

“Itu bukan panutan untuk membentuk negara dan pemerintahan dengan tujuan politik tertentu,” kata Agus.

Agus mengatakan tafsir ini juga merupakan bentuk penolakan terhadap keberadaan pihak yang mengaitkan kelompok Islam (Hizbullah) dengan khalifah Muslim.

“Ini fitnah yang kami tolak,” katanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diberitakan sebelumnya telah mengungkapkan bahwa ada organisasi dengan konsep khilafah non-Islam yang masih ada di Indonesia hingga saat ini.

Dewan direksi Koalisi Internasional untuk Memerangi Ekstremisme dan Terorisme (Makmoun Rashid) mengatakan, organisasi tersebut adalah organisasi Hizbullah Islam.

“Faktanya, ada kelompok (kelompok Muslim Hizbullah) yang masih eksis hingga saat ini, selain khalifah Islam,” kata Makmoun dalam diskusi online yang digelar di MUI, Sabtu (6/11/2022).

Menurut McMahon, ada hubungan antara khalifah Muslim dan kelompok Islam Hizbullah.

Sebagai pemimpin khalifah Islam Abd al-Qadir Hassan Barja, dia mengatakan bahwa dia mengenal satu sama lain dengan pemimpin kelompok Islam Hizbullah.

“Jadi dua organisasi ini masih eksis sampai sekarang,” kata Makmon.

Makmoun mengaku bertemu dengan anggota kelompok Islam Hizbullah dalam sebuah simposium di sebuah universitas di Indonesia.

“Saya juga bertemu dengan orang-orang dari Hizbullah, sebuah kelompok Muslim. Saat itu, kami diundang untuk menghadiri seminar di sebuah universitas di Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Bulda Metro Jaya kembali menangkap dua orang yang terkait dengan kelompok Khilafah Islamiyah di markasnya di Bandar Lampung pada Sabtu (6 November 2022).

Namun, polisi tidak membeberkan identitas kedua tersangka yang baru ditangkap itu.

Direktur Reserse Kriminal Polres Metro Jaya Paul Hengki Haradi mengatakan dalam keterangannya, Sabtu (11/6/2022) “Hari ini kami telah menangkap dua tersangka (berkaitan dengan khilafah Islam)”.

Hengki hanya menyebut bahwa mereka berdua adalah tokoh penting dalam kelompok tersebut.

Namun, mantan Kapolsek Metro Jakarta Pusat itu tidak mengambil peran kedua tersangka yang dikenal sebagai tokoh kunci kelompok khalifah tersebut.

“Pada dasarnya ini adalah dua tokoh penting dalam ormas ini dan penyelidikan kami terus berlanjut. Akan ada kejahatan baru yang akan kami sampaikan kepada kami nanti ketika kami dibebaskan dari Jakarta,” jelasnya.

Dalam kasus ini, pemimpin Khilafah Islamiyah Abdul Qadir Hassan Barja ditangkap pada Selasa pagi (6 Juli 2022) oleh Bulda Metro Jaya di Kabupaten Lampung.

Dia ditangkap oleh tim Dieterscrimum di Bulda Metro Gaya di markas Muslim mereka di Bandar Lampung, Teluk Bitung.

Abd al-Qadir al-Baraga diatur oleh Pasal 14 dan/atau 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Ketentuan KUHP.

Kemudian Pasal 82a terhadap Pasal 59 Nomor 16 Tahun 2017 tentang Persyaratan Birbu Nomor 2 Tahun 2017 terkait Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.