Spread the love

Managing Director Energy Watch Mamit Setiawan yang berbasis di Jakarta, optimistis jika pemerintah memberlakukan pembatasan pembelian bahan bakar Pertalite (termasuk solar), tingkat perlambatan konsumsi Pertamax yang didorong oleh kenaikan harga akan kembali meningkat.slot strange

Dia mengatakan di Liputan6.com pada hari Rabu bahwa Liputan6.com akan melihat peningkatan karena “ada pembatasan. Jika pembatasan Pertalite diterapkan dalam praktik dan semua pihak konsisten menerapkan kebijakan ini, Pertamax bisa naik hingga 40%. Saya’ m menebak.” katanya. 6 Januari 2022).

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaan komersial dan komersial Pertamina Patra Niaga membenarkan bahwa konsumsi bahan bakar RON 92 sebenarnya berkurang.

Sekretaris Negara PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan kepada Liputan6.com bahwa “Konsumsi Pertamina mengalami penurunan sekitar 20%.

Irto tidak memungkiri sebagian konsumen Pertamax sudah migrasi menggunakan Pertalite. Meski angka oktan (RM90) lebih rendah, harga jualnya juga lebih irit (RM7.650 per liter).

Namun, dia mengklaim jumlah pengguna BBM Pertamax masih sangat besar. Konsumsi Pertamax tidak terkendali, namun pasar Pertamax yang tersegmentasi cenderung terus berlanjut.

“Secara kumulatif Mei, pengguna Pertamax masih bensin/bensin 19% dan Petalite 80%. Jadi pengguna Pertamax masih cukup sedikit,” jelasnya.

Erto mengatakan, ”Artinya dari Januari hingga Mei masih sangat banyak kumulatif pengguna Pertamax.

Pemerintah saat ini sedang menyusun peraturan tentang pembatasan pembelian bahan bakar pertalite dan solar. Implementasi kebijakan ini direncanakan agar penerapan lebih tepat sasaran.

CEO Energy Watch Mamet Setiawan telah menyetujui rencana pengurangan pembelian pertalite dan solar. Saya pikir sudah saatnya pemerintah memberikan dukungan kepada rakyat, bukan dalam bentuk produk.

Dalam hal ini, ia telah mengklarifikasi beberapa kelompok yang menurutnya layak mendapatkan reward untuk membeli Pertalite dan Solar.

Kepada Liputan6.com, Selasa (31/5/): “Saya kira standarnya adalah kendaraan roda dua, angkutan umum, angkutan stok, usaha kecil, mobil pribadi di bawah 2012, kendaraan pertanian kecil dan menengah.” . 2022).

Jika tidak dicegah, pemerintah pasti akan kesulitan ke depan, kata Mamet. Dan alasannya, seberapa besar kuota yang dialokasikan untuk subsidi bahan bakar minyak dalam APBN, produk bersubsidi mau tidak mau akan rusak karena siapa saja bisa mengonsumsinya.

Dikombinasikan dengan kemajuan teknologi saat ini diyakini distribusi BBM bersubsidi akan semakin mudah. Asalkan semua pihak memiliki visi yang sama untuk mengurangi beban dukungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.