Spread the love

Hari Anak Sedunia di Jakarta pada 1 Juni menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak anak.

Save Children Indonesia dalam rangka Hari Anak Sedunia 2022 memberikan penekanan khusus pada hak-hak anak minoritas. Begitu pula dengan hak kesehatan, khususnya risiko “zero dose” atau anak di bawah 5 tahun tidak mendapat imunisasi rutin selama wabah.slot bonanza

Selain penyakit menular, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menandai risiko berbagai penyakit lain yang dapat menyerang anak-anak di seluruh dunia. Misalnya, pada tahun 2020 terdapat 93.913 kasus campak dan 7.420 kasus rubella. Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang secara bersama-sama melaporkan rubella dan difteri sebagai kasus remaja abnormal (KLB).

Pandemi COVID-19 sendiri berdampak pada kesehatan anak-anak Indonesia. Setidaknya ada tiga isu: risiko “zero dose”: anak tidak mendapatkan atau melewatkan imunisasi esensial, pelanggaran Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti ASI, dan stunting.

Masalah dosis nol sedang meningkat karena dampak pandemi COVID-19. Layanan imunisasi tingkat masyarakat lumpuh, dengan Posyandu aktif menurun secara signifikan dari 63,6% (2019) menjadi 21% (Profil Kesehatan Indonesia 2020). Hal ini disebabkan oleh pelarangan pergerakan, kelangkaan vaksin, dan prioritas layanan kesehatan yang lebih fokus pada penanganan COVID-19 selama pandemi COVID-19.

* Apakah itu nyata atau scam? Untuk memverifikasi kebenaran informasi yang disebarluaskan, silakan kirim Liputan6.com Fact Check Number 0811 9787670 ke WhatsApp dengan kata kunci yang diperlukan.

Di sisi lain, dengan ditemukannya kembali penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi rutin, maka ancaman kejadian anomali (KLB) menjadi besar.

Penyakit-penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan penyakit, kecacatan, bahkan kematian pada anak-anak.

Selama pandemi COVID-19, cakupan imunisasi Indonesia secara keseluruhan mengalami penurunan sekitar 10% pada tahun 2020 dan 2021 dibandingkan capaian tahun 2019. Dapat juga dijelaskan bahwa sekitar 10% dari 4,6 juta anak Indonesia tidak. Dapatkan vaksinasi lengkap menurut laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada April 2022.

Menyikapi kondisi tersebut di atas, Save Children Indonesia merekomendasikan agar pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkrit untuk mengejar ketertinggalan dari rangkaian lengkap vaksinasi wajib terhadap COVID-19, termasuk komitmen dari para pemimpin lokal. Hal ini juga memperkuat program kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dasar yang lengkap.

Selain itu, anak-anak, termasuk mereka yang beragama minoritas, menghadapi trauma psikologis dan diskriminasi di masyarakat.

Pada tahun 2021, Save Children dan TIFA akan melakukan studi untuk mengidentifikasi pelanggaran hak asasi manusia selama epidemi, terutama untuk kelompok minoritas dan rentan.

Salah satu temuannya adalah anak-anak keluarga Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat tidak mengalami kekerasan, namun masih mengalami kekerasan yang terjadi ketika mereka mulai pindah pada tahun 2006.

Hal yang sama terjadi pada anak-anak dan komunitas Syi’ah di Jawa Timur yang terstigma sejak awal migrasi. Bahkan, ada yang menyembunyikan identitas Syiahnya agar anak-anaknya bisa bersekolah tanpa diskriminasi.

Berkaitan dengan hal tersebut, rekomendasi yang disampaikan kepada Pemerintah Indonesia adalah diharapkan adanya review dan amandemen regulasi nasional, identifikasi dan penyesuaian kebijakan yang tidak sesuai dengan semangat kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama. , harus dilakukan.

Pencantuman kebijakan di tingkat lokal, khususnya yang berkaitan dengan layanan dasar yang dapat diakses oleh anak, harus melindungi dan menghormati pengamalan agama dan kepercayaan yang dilakukan oleh anak.

Untuk itu, sebuah laporan alternatif tentang tinjauan reguler universal pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia pada tahun 2022 telah diterbitkan.

Dalam penyusunan laporan tersebut, Save the Children Indonesia bekerja sama dengan koalisi LSM untuk memantau Kelompok Kerja Hak Anak dan Hak Asasi Manusia. Laporan yang melibatkan lebih dari 20 organisasi itu diserahkan ke Dewan Hak Asasi Manusia secara online pada 31 Maret 2022.

Troy Bantu/Chair mengatakan: “Dalam momen Hari Anak Internasional ini, kami mendesak semua pihak untuk lebih memperhatikan risiko kesehatan anak balita dan trauma dan diskriminasi yang dihadapi anak-anak, termasuk anak-anak minoritas. Agama kelompok Indonesia. Advokasi, Kampanye, Komunikasi dan Media Save Indonesia Child mengutip siaran pers, Rabu (1/6/2022).

Troy menambahkan Save Children merupakan anggota koalisi LSM Indonesia sebagai bagian dari masyarakat sipil yang beranggotakan 47 orang. Partai-partai politiknya menangani berbagai isu, termasuk anak-anak, perempuan, dan isu-isu hak asasi manusia dan kesehatan. Save the Children menyerahkan laporannya ke PBB pada pertemuan 4th UPR (Universal Periodic Review) pada 31 Maret 2022.

Universal Periodic Review (UPR) adalah mekanisme peninjauan berkala terhadap situasi hak asasi manusia suatu negara di berbagai negara di dunia, secara bergantian setiap lima tahun. Laporan ini dikonsultasikan dengan masyarakat sipil melalui penasehatan nasional dan lokakarya yang dihadiri oleh perwakilan LSM dari berbagai sektor di seluruh Indonesia dari 7 hingga 8 Februari 2022. Laporan ini direview oleh para peneliti yang tergabung dalam Human Rights Working Group (HRWG) dari 7-14 Maret 2022.

Leave a Reply

Your email address will not be published.