Spread the love

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global yang terus berlanjut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar ekonomi di Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arefin Tasrif mengatakan harga keekonomian BBM sudah mencapai Rp 30.000 per liter.

Dia mengatakan infrastruktur bahan bakar apa pun dapat dibuat lebih efisien dan efisien melalui peningkatan logistik.kasino live

Arefin mengatakan: “Saat ini harga minyak dunia di atas $100-120 per barel. Harga ekonomi rata-rata 90 rupee, dan rata-rata 92 rupee lebih dari 30.000 rupee. Ini harus kita antisipasi karena krisis energi tidak bisa diharapkan berakhir. . ” . Resmi Jumat (24 Juni 2020) dalam sebuah pernyataan.

setelah itu dia

Jauh lebih murah dibandingkan harga BBM di Indonesia. “Pertalite (RON 90) dijual seharga Rp 7.650 dan Pertamax (RON 92) seharga Rp 12.500. Jadi kita perlu mengingatkan masyarakat untuk menggunakan BBM seefisien mungkin. Ini akan mempengaruhi (kembung) Alokasi. Saya gila ” dijelaskan.

Hal itu disampaikan Arifin saat meninjau beberapa cabang infrastruktur bahan bakar minyak dan gas: Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPUBN) dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Pesawat (DPPU) Labuan Bajo.

Agenda ini juga memastikan ekonomi akses energi ke masyarakat, diskusi kunci dalam Kelompok Kerja Transisi Energi Kedua (ETWG).

Dalam pemeriksaan tersebut, Arifin mendapat laporan dari direktur SPBU terkait kelancaran pasokan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada masyarakat dan industri.

Seorang pejabat Arepin mengatakan, “Bahan bakar didistribusikan dengan lancar di SPBU non-publik (PSO), sehingga reaksi masyarakat baik. Bahan bakar jet juga aman di gudang,” ujarnya.

Arifin mengimbau PT Pertamina (Persero) untuk mengantisipasi permintaan yang terus meningkat mengingat Labuan Bajo merupakan prioritas pariwisata utama pemerintah.

“Kita harus berharap banyak turis ke daerah itu. Tentu saja akan ada peningkatan permintaan bahan bakar dan bahan bakar,” kata Arivin.

aturan baru untuk agustus

Aturan baru pembelian bahan bakar minyak (BBM) pertalite oleh masyarakat umum akan mulai berlaku pada Agustus 2022.

Erica Retnawati, Direktur Badan Pengatur Perminyakan dan Gas Bumi (BPH Migas), mengatakan aturan pembelian bahan bakar pertalite saat ini masih berlaku.

Pemerintah akan mengkaji ulang Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 untuk mengkaji ulang penyediaan, pendistribusian, dan penjualan eceran bahan bakar minyak untuk meningkatkan pasokan bahan bakar bersubsidi.

Erica berbicara pada Rapat Dengar Pendapat Komite ke-7 DPR RI (RDP) pada Kamis, 23 Juni 2022.

Erika melanjutkan, “Perubahan UU Presiden telah disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada Presiden Joko Widodo.”

BPH Migas masih menunggu permintaan pembahasan lebih lanjut.

Salah satu poin yang akan dibahas dalam diskusi tersebut adalah dampak dari sebuah kebijakan baru, terutama jika menyangkut aspek sosial.

Yang jelas dalam aturan baru itu, BPH Migas berencana mengatur atau mengidentifikasi kembali konsumen yang menggunakan jenis solar tertentu.

Tunjangan juga diberikan kepada konsumen yang menggunakan bahan bakar alokasi khusus jenis Pertalite (JBKP).

Sementara itu, Erika yakin BPH Migas akan melakukan sejumlah persiapan lainnya.

“Kami sedang menyiapkan aturan turunan berupa peraturan dasar dan undang-undang,” tambah Erica.

Aturan turunannya merupakan aturan penegakan aturan BPH Migas, yang antara lain mencakup aturan pengendalian besaran BBM bersubsidi melalui SK.

Jangan membeli mobil mewah

Sebelumnya diberitakan, BPH Migas akan mengorganisir masyarakat yang bisa membeli BBM RON 90 atau Pertalite di SPBU Pertamina. Mobil mewah bermesin besar dilarang membeli Pertalite.

Erica Retnawati, Ketua BPH Migas, dalam rapat komite ke-7 DPR mengatakan: “Harga pertalite masih di bawah harga keekonomian, pemerintah harus memberikan kompensasi dan itu untuk orang miskin. Mobil mewah tidak pernah diizinkan” kata. . waktu berlalu

Erica menjelaskan, pihaknya saat ini sedang menyusun pedoman teknis untuk kriteria pembeli Pertalite, termasuk definisi mobil mewah yang dimaksud.

Sebenarnya menimbulkan banyak kontroversi dan sampai pada kesimpulan bahwa cc sudah diperbaiki, mengapa? Dilihat dari konsumsinya, cc yang besar ini menghabiskan banyak bahan bakar dan didesain untuk tidak dikonsumsi bersamaan dengan pertalite. Itu juga akan merusak mesin dari waktu ke waktu dan dengan spesifikasi mesin,” kata Erica.

Kajian kelas mobil mewah berbasis cc ini dilakukan bersama dengan Universitas Gajamada. Keputusan tentang masalah ini diharapkan akan diumumkan pada Agustus atau September.

BPH Migas akan mengorganisir masyarakat yang bisa membeli BBM RON 90 atau Pertalite di SPBU Pertamina.

Selama ini kriteria pembelian BBM yang diatur dalam Perpres 191/2014 hanya berlaku untuk jenis bahan bakar solar (JBT) tertentu.

“Saat ini pengguna konsumen yang teregulasi hanya terkoneksi dengan JBT Solar, tetapi JBKP akan dimasukkan ke depan,” jelasnya.

Selain mobil mewah berbasis cc, Erika mengatakan kendaraan dinas TNI, Polri, dan BUMN juga akan dilarang membeli Pertalite. BPH Migas disebut-sebut akan bekerja sama dengan polisi untuk melakukan pengawasan.

Erika juga mencatat bahwa sudah ada standar untuk siapa yang berhak membeli Pertalite.

Setelah kebijakan ini diterapkan, konsumen akan menggunakan aplikasi untuk membeli bensin Pertalite.

Sementara itu, produsen bahan bakar milik negara Pertamina mengatakan dapat mengkategorikan pembeli pertalite dan solar bersubsidi berdasarkan kelas kendaraan.

Anda juga bisa tahu dari warna plat nomor hitam atau kuning. Mars Ega Legowo Putra, Regional Marketing Director PT Pertamina Patra Niaga, berharap pemerintah tidak terlalu menekan penetapan standar pembeli.

Dikatakannya, pihaknya telah menyusun pesanan MyPertamina untuk menandai segmentasi pembeli BBM.

Dia mengatakan bisa mendorong masyarakat berpenghasilan menengah ke atas untuk mengonsumsi bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo atau Pertamina Dex.

Sedangkan BBM bersubsidi, Pertalite dan Solar, tersedia bagi mereka yang membutuhkan. (Filemon Agung / Yudo Winarto)

Sumber: Contan

Leave a Reply

Your email address will not be published.