Spread the love

SIGLEY – Empat penembak jitu yang menembak jatuh Kapten Enf Abdul Majid, pimpinan Kantor Intelijen Strategis (Dantem) Daerah Bedi, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.microgaming

Jaksa Penuntut Umum Bedi memvonis Al Dharmi, Faisal, Mardani dan Abu Daoud dengan hukuman penjara seumur hidup dalam sidang di Pengadilan Negeri Sigali, Senin (13 Juni 2022).

Menurut keterangan yang diterima Serambi Selasa (14/6/2022), penembakan terhadap BAIS Dantim melibatkan tujuh orang terdakwa.

Mereka adalah Abu Dawud, Mardani, Darmi, Faisal, Qamaruddin, Nizaruddin dan Ramdanieh.

Masing-masing memiliki peran yang berbeda dan dicoba dalam file terpisah.

JPU SM Home Bed Jim Bong Priyanto mengatakan dalam keterangannya kepada Serambi, Selasa (14/6/2022) “Saya menghukum terdakwa Al-Darmi, Faisal, Mardani dan Abu Daoud dengan hukuman penjara seumur hidup.” .

Jambong menjelaskan bahwa dia bertanggung jawab untuk memerintahkan Abu Daoud mencari sasaran tembak, TNI-Polri.

Terdakwa Dharmi bertanggung jawab untuk merencanakan dan memimpin kelompok di wilayah Bedi.

Sedangkan Terdakwa Mardani berperan sebagai penulis naskah dan bertugas mencari sasaran, dan Faisal melaksanakan pelaksanaannya.

Jimbong Priyanto mengatakan “Dharmi mengatur skenario dengan Mardani. Mardani mencari target dan targetnya adalah korban ini.”

Menurut pemotongan gaji, ada beberapa alasan mengapa keempat terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Pertama-tama, kondisinya tidak menguntungkan karena mereka membunuh orang lain, dan terdakwa kembali melakukan kejahatan.

“Dari tujuh terdakwa, Faisal bukan satu-satunya penjahat. Satu hal yang bisa diringankan oleh para terdakwa adalah mengakui perbuatannya di depan umum,” kata Jimbong.

Sedangkan tiga terdakwa lainnya divonis 20 tahun untuk Camar el-Din dan 10 tahun untuk Nazar el-Din dan Ramadencia.

Qamar al-Din dikatakan telah ditugaskan untuk menemukan ribuan peluru.

Ia menjelaskan, “Kamarudin adalah orang yang menemukan dan mengumpulkan peluru untuk meledakkan kembali Aceh. Ia memesan 1000 peluru dan mengumpulkan 75. Beberapa di antaranya dibeli dari Nizarudin dan Ramandencia.”

Sebagai acuan, tiga tersangka pelaku penembakan BAIS Dantim, Darni, Faisal, dan Mardani di kawasan Bedi yang dipimpin U dan AA berada di luar.

Sedangkan di Aceh, ada ketua rombongan H (almarhum) dan Abu Dawud dari Meulaboh di Aceh bagian barat.

Konon awalnya Dharmi memanggil Mordani untuk datang ke kebun cabai di Gampungmali, provinsi Pedi Sakti.

Aldarami mengaku ingin berbicara langsung melalui telepon.

Sehari kemudian, Mardani datang menemui Al Dharmi.

Di sana, Al Dharimi dikabarkan pernah mengutarakan keinginannya untuk menciptakan konflik yang akan menggoyahkan Aceh.

Pada Juni 2021, Al-Darmi dan Faisal datang ke Meulaboh untuk menemui Abu Dawud.

Dalam pertemuan tersebut, Al-Darmi ditugaskan dan mengambil alih sebagai Kepala Komando Daerah Bedi.

Sebulan setelah al-Darmi mengambil alih komando wilayah Bedi, Mardani datang ke kebun al-Darmi untuk mewujudkan rencananya.

Mardani juga disebut-sebut menyerahkan satu magasin berisi satu meriam AK dan 20 peluru tajam.

Darmy menyimpannya di gubuk bambu di kebun cabai miliknya.

Usai menuntaskan rencana, penembak menembak Kapten Majid pada Kamis (28 Oktober 2021) pukul 17.15 WIB di kawasan Sakti Jalan Lhok Krinkonj Gampung Lhok Panah, Bidi.

Setelah Kejaksaan Agung Bedy membacakan dakwaan, sidang dijadwalkan dilanjutkan pada 27 Juni 2022, bersamaan dengan pembacaan permohonan terdakwa.

Garis waktu pemotretan mode intensitas

Kapten Abdul Majeed, Komandan Tim Intelijen Strategis BAIS (Dantim) TNI di wilayah Bidi, dikabarkan tewas tertembak di Aceh pada Kamis (28 Oktober 2021).

Combs Paul Winardi, Kabag Humas Polda Aceh, mencatat penembakan pesawat BAIS TNI Dantim di Kabupaten Bedi oleh Kapten Abdul Majeed.

Pelaku M awalnya meminta untuk menemui korban di TKP.

Namun, dua orang lainnya sedang menunggu di TKP dan mereka melakukan perampokan.

Pelaku M yang mengetahui keseharian korban sengaja meminta bertemu dengan korban hari itu juga.

Bahkan, M masuk ke dalam mobil korban dan menuju lokasi penembakan di Desa Lokpana, Kabupaten Sakti, Kabupaten Phidi, Aceh.

Begitu tiba di lokasi, pelaku langsung melepaskan tembakan dan membunuh korban.

“Kode, kalau M turun, F langsung nyala,” kata Winardi.

Perampokan tersebut direncanakan oleh tiga orang pelaku menjelang eksekusi di lapangan cabai merah perampok D.

Ketiga tersangka menembak dan menangkap mendiang Kapten Abdul Majid, pimpinan Badan Intelijen Strategis Daerah (Dantim) Bidi, pada Minggu (31/10/31) dan Minggu (31/10/31). ).

Pada Minggu (31 Oktober 2021), tim polisi yang dipimpin Kapolres Bedi AKBP Padli menangkap tiga tersangka yang diidentifikasi sebagai salah satu anggota komplotan yang membunuh perwira TNI Kapten Abdul Majid.

Winardi menjelaskan, D merupakan tersangka kepemilikan senjata api.

Senjata yang digunakan dalam penembakan Angkatan Darat India adalah SS1 V2.

“Kami menemukan dan mengamankan senjata di kebun tersangka D,” katanya.

Selain senjata, polisi juga menyita sejumlah uang.

Lebih lanjut, Winardi menyatakan bahwa M. adalah tersangka yang mengenal korban Kapten Abd al-Majid (meninggal).

Dia dilaporkan memerintahkan korban untuk bertemu di lokasi penembakan.

Terakhir, tersangka F.

Menurut Humas, ‘F’ adalah pelaku atau pelaku penembakan yang menewaskan Kapten Abdul Maji saat itu. (menangis)

Diedit dari artikel yang diposting di SerambiNews.com berjudul Empat penembak jitu BAIS didakwa dengan hukuman penjara seumur hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published.