Spread the love

Jakarta – Individu dari segala usia bisa menderita anemia. Bahkan, anak-anak pun bisa mengalami kondisi ini.

Anemia atau kelainan darah ringan tidak boleh dianggap enteng. Hal ini karena darah memegang peranan penting dalam kesehatan tubuh. Ahli gizi dr. Rita Ramaiolis, DCN, M.Kes menjelaskan tentang kemampuan darah untuk mengangkut oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan ke seluruh tubuh, termasuk otak.slot bonanza

Mengutip Vodcast BKKBN Time for Indonesia Planning pada Kamis, Rita mengatakan: “Darah dalam tubuh kita memegang peranan penting. Darah bertanggung jawab untuk membawa oksigen ke otak, otot dan sel. Darah juga membawa nutrisi.” . 9 September 2020). Juni 2022).

Untuk memeriksa anemia, Anda perlu memeriksa kadar hemoglobin Anda.

Ada banyak kondisi yang dapat dikenali oleh orang tua bahwa bayi dan anak kecil mereka mungkin merupakan tanda bahwa mereka menderita anemia.

Pertama, Rita mengaku menderita keterlambatan perkembangan, yakni pertambahan berat badan anaknya tidak sesuai harapan.

“Kalau anak anemia, pertumbuhannya terhambat,” kata Rita.

Jika tidak segera diobati, kondisi pertumbuhan yang tertunda pada akhirnya mungkin gagal berkembang. Rita juga menggambarkan kondisi ini sebagai pendahulu dwarfisme.

Tanda-tanda lain bahwa anak Anda mungkin menderita anemia termasuk pucat, mudah tersinggung, merengek, lemah, dan tampak lemah. Anak dengan anemia cenderung tidak memberikan respon terhadap rangsang yang diberikan.

Anemia pada bayi disebabkan oleh kekurangan zat besi, protein, dan asam folat. Ketiganya merupakan komponen utama hemoglobin. Oleh karena itu, ibu harus memperhatikan nutrisi anaknya. Untuk bayi yang masih dalam tahap pemberian ASI eksklusif, ibu harus memperhatikan kandungan zat besi dalam ASI dan frekuensi menyusui.

Alasan lain anak-anak dapat mengalami anemia adalah infeksi. Infeksi pada sistem pernapasan atau pencernaan dapat menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin pada anak.

Di Indonesia, jumlah ibu yang menderita anemia terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKDAS), meningkat dari 37,1% pada tahun 2013 menjadi 48,9% pada tahun 2018.

Angka kejadian anemia pada kelompok umur 15-24 dan 25-34 tahun.

Melihat situasi anemia yang masih merajalela di Indonesia, Direktur Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo berpesan kepada para pengantin muda untuk melupakan pentingnya memperhatikan persiapannya dan tidak terjebak di dalamnya. Hamil.

Pria, yang juga dokter kandungan dan ginekolog, juga melaporkan penurunan tingkat impotensi kronis (KEK) pada wanita usia subur (WUS).

Menurut Riskesdas 2018, 17,3% ibu hamil di KEK WUS dan 14,5% ibu tidak hamil di KEK WUS.

Sementara itu, pada tahun 2013, 24,2% ibu hamil di KEK WUS dan 20,8% ibu tidak hamil di KEK WUS menunjukkan angka tersebut.

“Pada kenyataannya, kesehatan pemuda akan menentukan keberhasilan pembangunan yang sehat, khususnya dalam upaya mencetak kualitas generasi penerus bangsa di masa depan. Namun, ada anggapan yang salah di kalangan remaja tentang ukuran kecantikan yang ditentukan. Hasto mengatakan pada akhir tahun 2021: Tubuh yang langsing atau kurus menjadi tantangan utama dalam mencegah stunting.

Deputi Bidang Kesejahteraan Keluarga – Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN, Nopian Andusti SE MT menambahkan, seluruh calon atau calon PUS (pasutri yang berpotensi mengandung anak) harus menjalani pemeriksaan kesehatan dan pendampingan selama tiga bulan sebelum menikah, serta penyuluhan perkawinan untuk materi pencegahan HIV dwarfisme. .

“Kami berharap dapat mengidentifikasi dan menghilangkan faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting pada calon pengantin atau calon PUS sebelum menikah dan hamil,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.