Spread the love

 Jakarta Ada orang yang ingin hidup normal, dengan kesuksesan, pencapaian dalam hidup, dan berbagai pencapaian di media sosial. Apakah salah jika hanya ingin hidup normal tanpa menginginkan sesuatu yang mewah?slot strange

Psikolog klinis Renenda Mutia mengatakan tidak ada yang salah dengan orang yang ingin hidup normal karena definisi sukses yang berbeda-beda.

Renenda mengatakan, “Karena setiap orang memiliki nilai dan kebutuhan yang berbeda.

Sukses didefinisikan secara berbeda oleh setiap orang berdasarkan kebutuhan masing-masing. Ada orang yang butuh prestasi, ada orang yang butuh nilai bagus di sekolah, dan ada orang yang butuh posisi bagus di kantor. Beberapa tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain. Lebih baik punya banyak teman daripada mendapat nilai bagus. Beberapa orang dilahirkan dengan keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk menjadi seorang pemimpin.

Oleh karena itu, kesuksesan individu dapat dimaknai secara berbeda. Bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang stabil, kehidupan normal adalah hasil dari kesuksesan. Di sisi lain, ada orang yang menganggap hidup menetap itu membosankan dan ingin menjalani hidup yang lebih menantang seperti roller coaster.

Renenda, mengutip Antara, mengatakan: “Jadi kita tidak bisa membandingkan satu orang dengan orang lain. Kita tidak bisa mengatakan dia berhasil atau gagal.”

Dia tidak menyangkal bahwa ada aturan tidak tertulis dalam masyarakat untuk kriteria keberhasilan. Dimulai dengan masuk sekolah yang bagus, lulus dengan nilai bagus, masuk universitas yang diinginkan, bekerja di perusahaan, memiliki rumah yang indah dan kekayaan materi yang besar. Namun, ini tidak berarti bahwa individu harus mengikuti “aturan” jika nilai-nilai mereka ternyata bertentangan dengan individu tersebut.

“Penting untuk mengenal diri sendiri. Apa kebutuhan saya? Apa nilai-nilai batin saya? Apakah saya sudah hidup sesuai dengan keinginan dan nilai-nilai saya?”

Psikolog dari Universitas Atma Jaya Jakarta ini menyarankan setiap individu untuk fokus pada kekuatannya sendiri dan menerima kelemahan orang lain. Misalnya, anak Anda pandai bahasa tetapi tidak pandai matematika. Jadi kembangkan bidang yang telah Anda kuasai atau bakat yang Anda miliki untuk mencapai hasil yang luar biasa.

Ketika Anda mengetahui kekuatan dan kelemahan Anda, Anda dapat mengimbanginya sedikit demi sedikit, tetapi Anda dapat lebih mudah berhasil di jalur ini dengan lebih fokus pada peningkatan kekuatan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.