Spread the love

Jakarta – Adam Denny dan Ni Med Dwita Angari akhirnya divonis delapan tahun penjara terkait kasus pembobolan data dan perdagangan elektronik. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jakarta Utara Kejari Baringin Syanthuri mengatakan Senin (30 Mei 2022) bahwa pengadilan memvonis terdakwa masing-masing delapan tahun penjara. terdakwa yang ditahan.slot terbaik

JPU juga menjatuhkan pidana denda 1 miliar rupiah kepada salah satu terdakwa dan pidana denda karena kelalaian dengan syarat jika denda tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama lima bulan.

JPU mengatakan, para terdakwa Adam Denny dan Ni Med Dwita Angari telah membuktikan secara sah dan meyakinkan bahwa mereka telah melakukan perbuatan melawan hukum yang diatur dalam dakwaan pendahuluan.

Dalam penuntutan awal, Adam Denny dan Nei Maid didakwa berdasarkan pasal 48(3), bersama dengan pasal 32(3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang ITE, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan No. 19 Tahun 2016. ITE 2008 Perubahan UU No. 11 tentang ITE berkaitan dengan Pasal 55(1) dan 32(2) Pasal 48(2) KUHP dan selanjutnya Pasal 32(1) Pasal 48(1)).

Lebih buruk lagi, terdakwa tidak bertobat selama persidangan dan tidak bertindak dengan benar selama persidangan. Hal ini menyebabkan kehebohan selama persidangan. Selain itu, para terdakwa merasa sulit untuk bersaksi di persidangan.

Sidang pembacaan pledoi atau pembelaan diri Adam Denny dan Ni Med Dwita Angari akan dibuka kembali pada Selasa, 7 Juni 2022. Usai sidang, terdakwa Adam Denny mengatakan tuntutan jaksa merupakan yang terberat dalam kasusnya. .

Kejadian bermula ketika Adam Denny mengunggah dokumen pembelian sepeda untuk Ahmed Saheroni dari Ni Med Dwita Angari, Wakil Presiden Komite Ketiga Republik Demokratik Kongo.

Leave a Reply

Your email address will not be published.